 Blog For Free!
Archives
Home
2006 January
2005 December
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August
2004 July
2004 June
2004 May
2004 April
2004 March
2004 February
2004 January
My Links
-o| mbak estin
-o| sander rino
-o| lukman raif
-o| emil blemoh
-o| ronie ganteng
-o| icha jannah yah
-o| ardin al-sidrapi
-o| ziemash malaysia
-o| dita `tazkia`
-o| mbak amel
-o| adi onggo boyo
-o| dina ponakan
-o| mbak hanum
-o| andhiena
-o| al-akh muhandis
-o| mbak ima
-o| kang idE tea
-o| liya ajah
-o| mas mustoyo
-o| kusnandar thea
-o| A R S
-o| ukht anny
-o| bang @rul shion
-o| mbak arida
-o| n u r
-o| akh achdaf
-o| pandri cool
-o| akh hendra
-o| bang iman
-o| mbak septina
-o| arjit karateka
-o| bang jonru
-o| bang gaw bayu
-o| kang olieds
-o| none elah
-o| arie marsose
-o| riry tri ryu
-o| roel nurul
-o| ukhti aiz
-o| ukhti nana nabila
-o| siti citipoh
-o| dewi shafa
-o| kho yoyo
-o| ukht mfit
-o| kang yudi itb
-o| yenthree
-o| ephays hammas
-o| ummu nida
-o| retno bosnia
-o| vera sunflower
-o| hendrik seso
-o| mas doddy pwk
-o| rara cute
-o| izham johor
-o| teh maya japan
-o| my other blog
tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images
Sponsored
Blog





|
| On Multiplai |
| 01.01.06 (6:41 am) [edit] |
|
Menngapa e mengapa si arie jarang ngisi t-blog nyaa karena e karena suka lemot koneksinya jd males postingnya blom miskin fitur, template kaku bgt dlsb ...
Solusinya daku coba pindah ke blogspot.. ternyata gak pernah puas ma template-nya, sampe skrg gak beres2 utak-atik template nye mpok
Akhirnya si cakep ini coba utak atik lagi multiply yg dulu pernah join disono dan ternyata skrg dah cepet aksesnya, pdhl dulu lemot spt tblog. Wlo templatenya sederhana dan susah dikibulin (kcuali pake javascript yg dimodif kali ya..) tapi fiturnya kumplit maann! Bisa up album pfoto (gak usah bikin acc. di yg lain lagi), bisa masukin gbr (ga usah up gambar n bikin link lagi), bisa up MP3 n video juga! bisa posting jurnal yg disesuaikan dgn kriteria dan ada TAgs nya juga..
Weleh.. akhirnya diri ini lebih aktif disono deh.. yg kean.tblog bakalan jarang keurus deh.. & nbsp; &n bsp; &nb sp; &nbs p; So.. Klik aja :

|
|
|
| |
| Muwahhidun Ana |
| 12.25.05 (4:39 am) [edit] |
|
Muwahhidun ana, wa mu’minun billah (Bertauhid aku dan beriman kepada Allah) Allahu Kholiqii, wa waahibul hayyah (Allah penciptaku dan pemberi kehidupan)
Muwahhidun ana, wa mu’minun billaah (Bertauhid aku dan beriman kepada Allah) Qolbii bi nurillaah, mudhiiatun khuthooh (Hatiku dengan cahaya Allah, ...)
Warruuhu fiil isyrooq, wal fikru fii sholaah (Jiwaku bersinar, sedang fikiranku di dlm sholat)
Muwahhidun ana, Wa mu’minun billah (Bertauhid aku dan beriman kepada Allah) Qolbii bidzikrillah, yasydu wa madal hayaah (Hatiku dgn dzikrullah, brsenandung sepanjang hayat)
Daqootuhu taquul, Allah Allah Allah (detak2nya mengatakan : Allah, Allah, Allah)
Muwahhidun ana, wa mu’minun billah (Bertauhid aku dan beriman kepada Allah) Alkaunu kulluhu, lillaahi saajidu (Alam semesta seluruhnya, kepada Allah merunduk sujud)
Wal kullu yunsyidu, Allahu waahidu (Dan semuanya bersenandung, Allah adalah satu)
NB. : Ada yg tahu artinya "mudhiiatun kuthooh" (baris ke-4) ?! Lagu MP3-nya bisa di download di MP-ku: arvenda.multiply.com :)
Sumber lirik: http://anggrek.blogs.friendst...
|
|
|
| |
| seKedar upDate blOg :) |
| 10.12.05 (3:43 am) [edit] |
[image]kean_1162780521.jpg[/image] Menjadi hidup ditengah masalah, memang selalu menjadi susah. Banyak hal terjadi dan rasanya semakin membuat hidup sempit saja. Pergulatan di tengah hiruk pikuk kota, persaingan hidup, tekanan kerja, kemacetan jalanan, kelelahan fisik dan mental. 2/3 hidupku dalam sehari hanya tuk cari duit. Hingga kemarin, aku ambil cuti sehari. Penat!.
Tak ada lagi mesjid yang menjadi tempat aku singgah dulu, hanya tuk menyandarkan lelah. Tak ada lagi kawan yg menyemangati, yg membuatku sekedar tersenyum. Kekasih yg membuat tenang? haha.. sudah lama kata itu tak ada di kamusku. Dan demikianlah, kemarin ku coba menerbangkan jengah yang berjelaga itu di jalan-jalan kota yang macet. Menyalip beberapa mobil, menikmati udara berpolusi dalam kecepatan motor. Lalu berbaring di kamar dan tenggelam dalam tidur tak bermimpi. Tidurku terlalu indah tuk diganggu mimpi.
Dan pagi, kucoba cerah. Menghangatkan hati dengan mentari. Teringat SMS yg pernah kubuat tuk diri sendiri di HP; bila angin beku mnerpa maka tak ada lagi mentari yg dpt mluluhkan, kcuali jika hanya kau yang memecah- kannya sndiri. Episode hidup kali ini memang cukup berat, tak hanya pekerjaan tapi juga bbrp masalah kemarin yg cukup membuat bibir ini tersenyum getir. Tapi ini memang tuk sementara, tujuanku bukan disini; aku sedang membangun menuju tujuan itu. Ketegaran, sabar dan istiqamah menjadi kata yg begitu mewah ditelinga. Tetapi aku harus bisa! Dan itulah aku.
Kulihat lagi wajah bunda yang semakin mengguratkan usianya, mengguratkan sedih dan syahdu dihati. Kunikmati lagi wajah lucu keponakan, begitu polos dan indah. Menikmati kembali hidup yang penuh sisi indah walau dalam kepahitan. Bukankah diujung dahan berduri ada mawar?, dibalik mendung ada pelangi (?).
Dan blog ini, kembali menjadi keranjang sampah dari sedikit kisah dan keluh kesah.
|
|
|
| |
| Pertarungan Segi tiga: Merah telah Meninggalkan Senja |
| 10.04.05 (7:54 pm) [edit] |
Senja berakhir di titik merah Tak ada lagi rinai jingga Pedang patah; tetap terhunus
Aku heran, aku kira kau akan membiarkannya menancap di tanah (?) Dia tersenyum, "aku menemukan yang lain; yg mungkin bukan kau harap". Dahiku berkerut, tak habis pikir "Semua tak bisa diduga bukan?, begitulah sifat kehidupan..." ujarnya lagi
Dia memegang erat gagang pedang itu, tak peduli lagi sarungnya Dia tak peduli lagi pada angin beku Pada awan lembayung Atau tanah yang basah
Dibenak keras itu, hanya ada dirinya Yang berdiri menatap langit
"Ku tak kan menunggu malam makin gelap, biarkan kaki melangkah, walau jalanan mulai meremang!", sambungnya lagi
Mataku nanar, Memandangnya mulai beranjak dengan pedang terhunus yang telah ku patahkan Menyusuri jalan yang ia pilih; bukan jalan yang ku idamkan Dia bukan aku Aku tak tahu, apakah waktu akan membuatnya menjadi aku.
|
|
|
| |
| Blog Paan Niy ? |
| 09.05.05 (5:36 am) [edit] |
"Nyesel neh masuk ke blogmu!", ujar seorang sahabat. Karena menurutnya blog ini isinya melulu nuansa sedih. Siapa bilang? hm.. tapi kayaknya iya juga ya (?) hehe.. Ternyata - tanpa sadar - saya menjadikan blog yang satu ini tempat curhat, tempat berkeluh kesah. Aah.. kok bisa?
Merunut ke latar belakang ketika saya posting disini ternyata emang iya sih, biasanya ketika ada ganjelan di hati. Atau pas mendapat sesuatu yang membuat sedih. Kasihan juga ini blog, jadi tempat sampah keluh kesah, hehe..
Tetapi, kalau mau jujur. ternyata isi blog ini terkandung juga sisi "keukeuh" pemiliknya. Sisi tegar dan keberanian menghadapi masalah. Cieeh.. narsis luh! =P
Damai man, biarin blog ini apa adanya. Orang gak mungkin kan ceria terus, tapi tak juga cedih teyus.. Tempat ini hanya sekedar celotehan spontan saja kok. Gak ada yang "ghimanaah" gitu. Makanya cerpenku n opini ilmiah gak ada disini, soalnya itu kan bukan celotehan spontan. wew!
(Emang kamu punya cerpen n artikel ilmiah? ) =D ya gt dee.. ( sok cool )
|
|
|
| |
| .: istikharahku :. |
| 08.28.05 (5:39 am) [edit] |
Tuhanku.. Helai rambutku mulai memutih, usiaku hampir 3 dasawarsa Jangan Engkau biarkan aku hidup sendiri lalu mati terhinakan Jangan Engkau cabut ruhku sebelum agamaku genap, sempurna Jangan Engkau permalukan aku ketika menghadapmu hanya dengan setengah jiwa.
Tuhanku.. Engkau Maha Kuasa, sedang aku lemah, tanpa daya Engkau Maha Mengetahui, sedang aku bodoh dan hina Sungguh, disisi-Mu keagungan kuasa dan semesta rahasia.
Jika Engkau mengetahui, andai aku hidup bersama hamba-Mu itu akan dalam kebaikan, Di kehidupanku, baik untuk masa depan akhiratku, dan mendekatkanku pada kecintaan-Mu Maka takdirkanlah ya Allah,.. mohon, mudahkanlah jalannya dan berkahilah kami didalamnya.
Tetapi jika Engkau mengetahui, andai ini akan buruk diakhirnya Untuk duniaku nanti dan kehidupan akhiratku, bahkan menjauhkanku dari-Mu Maka jauhkanlah aku darinya, jauhkanlah dia dariku Dan berilah kami pengganti yang lebih baik serta berkahilah kami Anugerahkan kami kerelaan di hati, dimanapun jua.
Tuhanku.. Hamba mohon.. Engkau mengetahui selisik hati, Engkau mengetahui semua argumen yang tersembunyi Mohon.. genapkan hati sebelum Ramadhan ini.
Sungguh tak layak hamba meminta Hanya karena Rahman dan Rahiem-Mu lah..
Tuhanku.. Hamba mohon, Ampunkan aku..
|
|
|
| |
| Blog Yang Menjadi Nisan |
| 08.21.05 (2:33 am) [edit] |
Pernah klik blog rizaljundy.blogspot.com?? atau yang terbaru di blog natashaanya.com?! Bila belum, maka saya sarankan, kunjungilah! Mengapa? apakah kedua blog itu menarik? hmm, bagi saya pribadi kurang begitu. Lalu karena apa saya menyarankan tuk membukanya? Karena pemilik kedua blog itu telah meninggal!
Mungkin ada yang menganggap saya kurang kerjaan, buat apa mengunjungi blog yang orangnya sudah meninggal? Tetapi justru ini hal yang menarik. Mengapa? Dengan mengunjungi blog-blog tersebut saya banyak menemukan serpihan-serpihan kehidupan seseorang yang dulunya (pernah) ada dan hadir di dunia. Hal-hal apa saja yang telah ia lakukan dan lalu ia tinggalkan. Apa hobinya, bagaimana kuliahnya, apa makanan kesukaannya, seperti apa teman-temannya memandang dia, dan lainnya. Saya bisa merasakan konflik emosi yang dulu pernah dia alami. Emosi yang juga sering saya alami.
Dan akhirnya, hobi dan semua hal yang ia senangi, lembaran-lembaran diary yang ia tulis, menjadi sia-sia tak berarti. Karena kemudian ia tinggalkan.
Mengunjungi blog peninggalan seseorang yang sudah tiada memang memberikan nuansa lain. Mata saya seringkali memerah, lalu merembeskan air dibawah pelupuknya. Ah,.. bagaimana nanti jika orang mengunjungi blog saya ini, dan pemiliknya sudah tak ada lagi? apa yang akan mereka isi di shoutbox-nya? Apakah saya sudah cukup bermanfaat dikehidupan saya? berarti bagi keluarga, teman dan sahabat-sahabat saya? sehingga bisa dengan tenang meninggalkan semua hal ini (?) Apakah Tuhan akan tersenyum menyambut ruh saya?
(maaf jika ada salah kata, celotehan ini hanya sekedar tuk refleksi diri.. )
|
|
|
| |
| Jadi Penulis?! Why Not?! |
| 07.28.05 (1:16 pm) [edit] |
|

Haree genee mandeg nuliss ?!?@#$@$
Makanya, buruan ikutan: Workshop Penulisan IMB Bandung
Kapan?! Insya Allah, Hari/Tgl : Ahad, 14 Agustus 2005 Jam : 09.00 - 16.00 WIB Tempat : Ruang TVST Multi Media Institut Teknologi Bandung
Siapa aja nih pembicara ahlinya?!
M Irfan Hidayatullah (Ketua Umum FLP, Penulis) Jonru (Penulis artikel, Novelis, Owner Penulis Lepas) Arul Khan (Trainer Kepenulisan, Ketua IMB, Novelis) Benny Rhamdani (Penerbit MIZAN, Penulis)
Kegiatannya ada Workshop Kepenulisan, Pameran Buku, Pembahasan Karya Peserta (yang terpilih), Talkshow tentang Menulis dan Menerbitkan Karya.
Dan biayanya cukup murah banget, Umum : Rp. 25.000,- dan Mahasiswa : Rp. 15.000,-
Investasi pendaftaran dapat di Transfer ke: BNI cabang Ahmad Yani Bandung Acc. 0021312234 A/n. Tri Rahayu
Mau daftar online ?! boleeh :) klik aja di: DAFTAR ONLINE
For further information Arie A. 0815 7327 1268 (arvendap@yahoo.com); Ryu Tri 0813 2010 5417 (ryu_tri@yahoo.com); Ide Hadiana 0812 214 0913 (a_hadiana@yahoo.com); Rela P. 0812 146 5482 (e_klas28@yahoo.com)
Kegiatan ini atas kerjasama:
 IMB, Penulislepas, Aksara Salman, Gamais ITB, MQS
Buruaan daftaar!! Jangan salahkan panitia jika tak kebagian tempat! :D
|
|
|
| |
| kuncup rindu pada mentari |
| 07.28.05 (1:06 pm) [edit] |

Di tempat sunyi ini aku bersembunyi karena bayang pekat yang mengejar senja mengapa ia harus mengikutiku :?: tak cukupkah cerita basi dari kenangan yang terlerai ?
Aku hanya ingin bulir embun di daun hati tetapi mentari enggan tersenyum
Aku menyerah mungkin memang harus begitu, biarkan bayang itu menangkapku
|
|
|
| |
| Launching Buku Kumcer IMB |
| 06.20.05 (5:48 am) [edit] |
Alhamdulillah, dengan perjuangan dan niat awal untuk menegakkan bendera dakwah di jalan Allah SWT, maka buku kumpulan cerpen Indonesian Muslim Blogger akan di-lauching pada pameran Jakarta Books Fair di Istora Senayan tanggal 26 Juni 2005 di Stand MU3 Books No 113. Jadi, jangan sampai ketinggalan apalagi kehabisan!

Buku ini berisi cerpen-cerpen anggota IMB seperti Arie Arvenda, Asep ID Hadiana, Bina Iman W, Yudith Fabiola, Tary, Ummuthoriq, DH Devita, Jonru, dan Arul Khan. Penuh ketegangan, intrik, dan konspirasi. Namun, tetap ada hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik.
Cegat di 26 Juni 2005 !
http://www.muslimblog.net" title="http://www.muslimblog.net" target="_blank"http://www.muslimblog.net
|
|
|
| |
| Review This Month (update 26 Juni 05) |
| 06.19.05 (4:42 am) [edit] |
Alhamdulillah.. ada beberapa kejadian yang menarik bagiku di bulan ini. Yaah.. hanya ingin sekedar berbagi saja dg blog. Smg stiap kejadian dan apa yg dianugerahkan mnjadi media taqarrub ilallah.
- 1 Juni, (alhamdulilllah SIM C baru ku jadi juga, setelah gentayangan di jalan 1 thn lebih dg SIM yg kadaluarsa dan hilang pula.)
- 1 Juni, (Hmm.. alhamdulillah, ta'aruf yg susah payah kucoba, kandas lagi. Knapa susah payah? krn seringkali hal spt ini membuat hati dan jiwa lelah.. Dasar ikhwan preman, gitu deh, mungkin dikiranya aku ini playboy, hobi mengkotori hati dgn hal2 yg 'ga bener', dll. Hehe.. pdhl lebih paraah =P . Aku berlindung kpd Allah dari prasangka hamba-Nya, smg aku lebih baik dari prasangkaan itu..) Ada yg mo daftar? hehe..
- 9 Juni, Bekjul (bebek 70, sobat setia slama 12 thn wlo suka sakit2an :) ku pensiun! alhamdulillah gantinya Smash 04, tanpa diduga ada temen nawarin over kredit, dg DP yg murah bgt. Sapa kira duit sgitu bisa cukup buat kredit motor baru? hehe.. Yah.. itung2 plipur lara (apa coba?)
- Mei-Juni, (Magang ku di SD GM cukup menarik. Ternyata baru kusadari mmg aku suka dunia anak2, bercanda dg mrk, mengajarkan hal2 baru, membuat hidup jadi brwarna. Mungkin ini duniaku dulu yg prnah hilang =) alhamdulillah! Cuma malesnya tugasnya itu lho, disuruh bikin resume dari 3 buku ttg anak, ortu dan psikologi penddkn.) Tapi kmrn dpt teguran Kepsek, gara2 klo datang suka lemes dan loyo,.. lha iya, lha wong malemnya sering kurang tidur jagain wrnet je' :(
- ..Juni, (Kontrak di warnet masih jalan, tapi jadi malem terus, berhubung siang ngajar. Malah kemarin ditawari ngurusin 2 cabang warnet, tapi harus fulltime.. duh! pengen sih ambil kesempatan ini, tapi yg kerjaan di SD gimana dunk?) Alhamdulillah, temen2 spakat ganti jam ku hanya shift 2. Jadi ke skolah mudah2an ga lemes+ngantuk lg :) mksh temans. Tp kerjaan nambah di wnet blm dibicarain jg..
- ..Juni, (Hiks.. bude ku -kk ibu- yg tinggal satu-satunya mulai sakit2an. Smoga Allah menyembuhkan dan menguatkannya. Smg sakitnya bukan krn banyak pikiran pada kakaknya -bude ku yg lain- yg bln lalu meninggal. Bbrp kali aku suapkan obat dan makanan ke mulutnya, pdhl biasanya ga prnah, krn slalu ingin smua hal dikerjakannya sndiri, trmasuk minum obat.) Tapi alhamdulillah skrg mulai kuat, smg sehat kembali. amin..
- 24 Juni, ada yg milad. kok aku yg seneng? resonansi? heran .. Lalu sobat dtg malem2 kabarin temen yg lg broken.. wah, andai aku bisa bantu.. andai waktu bisa kubeli :( knapa skrg waktu tuk teman jd makin sempit??
- 25 Juni, (Rumah lagi di renovasi, dah abis puluhan juta bo! dan klo ga ada pemasukan tambahan, minggu ini bakalan terhenti pembangunannya, terbengkalai. Hiks.. ntar jd rumah 1/2 kosong dunk, mungkin bisa dijadiin tempat syuting Dunia Lain hehe.. Smoga Allah yang Maha Kaya, menolong melanjutkan proyek rumah kluarga ini. Amien..) Alhamdulillah, dapet kucuran dana 5 juta nee :D smg dicukupkan sampe beres..
- 25 Juni, (Duh.. kok bulan ini makin males aktivitas fisik ya? sgala keluhan badan kerasa, napas pendek, perut melunak, punggung pinggang sering krasa apa gitu.. gerakanku jd lamban, peredaran darah serasa mengental. Kudu banyak latihan lagi neh.. Masa muslim loyo ?!) Alhamdulillah sempet juga lari di sabuga. cuman 10 kliling trnyata msh fresh. Tapi kok betis2ku pegel bgt ?!?! payah neh..
- 26 Juni, silaturahim temen by phone. trnyata temen kena tumor!! masya Allah.. smoga Allah menyembuhkan. Lemes jg dengernya, dia sampe ga masuk kerja tuh. kbayang terpukulnya dia. Ya Allah, mohon kuatkan, sabarkan, sembuhkan temanku.. Malem, ol ma sohib dah lama ga ol hehe.. taunya mo mudik aja ke kampung. wah.. harapku smg ukhuwah kita ga putus ya. wlo berat aku mlepas kpergianmu.. ihiks :P met sukses Bro..!
- Akhir Juni, (Bikin novel ga jadi-jadi, ga sesuai ma jadwal. Abis komp. rmh sering dipake my bro buat proyeknya sih, blm lagi aku klo pulang sering larut malam bahkan bbrp kali pulang pagi. Blum rumah yg masih ga kondusif, porak-poranda, dll ... (aah.. alesan luu..!)
- Itu aja dulu ah ..
|
|
|
| |
| cita diri |
| 06.12.05 (7:59 am) [edit] |
aku hanya ingin ketulusan
|
|
|
| |
| Bikin SIM C Euy! |
| 06.01.05 (9:54 am) [edit] |

Tahu kan kepanjangan dari SIM? bukan! bukan surat ijin menikah hehe.. tapi tentu saja driving licence alias surat ijin mengemudi. Dan siang tadi aku baru mendapatkannya lagi! Kok "lagi" ?? Yup! Karena sudah setahun lebih aku dan motorku berkeliaran di jalanan tanpa SIM hehe.. Dulu prnah bikin waktu SMA trus prpanjang satu kali, tapi kemudian itu SIM raib brsama dompet dan isinya yg lain. hiks.. Selama gak pake SIM, alhamdulillah, baru satu kali kena tilang, selebihnya lancar. Ada sih dua kali di berhentikan polisi tapi hanya tuk diceramahi dan ngobrol hehe.. ga jadi ditilang. Hmm.. kalau menghindari operasi rutin sih udah nggak keitung deh. Mulai dari masuk gang, ngumpet dari operasi, sampe pura-pura cuek pas polisi melambai-lambaikan tangan tanda suruh berhenti. :P Kasian deh pak polisi gw cuekin.. untung ga ngejar hehe.. eh, alhamdulillah.
Tapi 3 hari kemarin bikin SIM itu lumayan ada hikmah juga. Soalnya ikutan jalur resmi siiy jadi lama, mo lewat calo?? sorii la yaw, abisnya ga ada calo yg nyamperin sih, apa salahku?? apa para calo melihat tampangku yg seperti gak punya duit?? hiks.. Hari Senin, test kesehatan, ngantri ratusan orang. Aku PD aja, kan slama ini alhamdulillah sehat wal afiat tak kurang suatu apa, badan fit maklum dunk mantan instruktur beladiri hehe.. Tetapi apa yg trjadi kemudain, eh, kemudian?? Ternyata aku gak lulus test kesehatan!! Gubraks.co.id deh! terajana nyata mataku buta warna parsial! wedew! Sungguh aku shock waktu itu, sangat tidak menyangka! Masak orang sekeren diriku bisa buta warna parsial ! :P hihi.. akhirnya terpaksa deh bikin surat rujukan dari RS Mata dulu (dengan jalan menyusuri rel kereta hampir 30 menit di terik siang mentari, menuju tuh RS). Jadi, Hari Senin aku gagal test. Soalnya pas balik ke Polwiltabes, bagian test kesehatan sudah tutup. Kacian deh gw, dah ngos-ngosan bolak balik, belum pulang dulu sejam ambil pas foto, taunya udah tutup.
Hari Selasa, langsung masuk bagian test kesehatan dan langsung masuk ruangan. Mungkin banyak orang yang ngantri kesel, kok aku bisa duluan masuk?? Hehe.. kcian deh, makanya bilang aja klo buta warna dan udah dari kemarin ikutan test, pasti deh itu mbak polwan mentung! :P Alhamdulillah, akhirnya lolos test kesehatan, lalu menuju loket 1 tuk daftar dan pembayaran. Biaya SIM Baru: Rp. 75rb, Perpanjang: Rp. 60rb. Ampuun!, eh, masya Allah! ternyata calo2 itu banyak bgt ambil untung! Klo kita bikin ke calo sekitar 230rb, malah kemaren temen bikin sampe 300rb bo! Coba aku jadi calo, lumayan tuh perharinya :D Lalu test berlanjut, kini masuk ruang kelas teori. Nunggu lama juga disono. Setelah penjelasan dari pak pulisi yang jangkungnya mirip Tora Sudiro itu, kita test tertulis. Ngisi pertanyaan-pertanyaan yang lumayan mikir juga. Prasaan banyak yg salah tuh aku ngisi, bbrp nebak dan ngasal, malah ada satu soal 2 jawaban, abisnya ga bawa penghapus sih.
Hari Rabu pagi, hasil ujian test trtulis dipajang di loket 4. Alhamdulillah aku lolos. Tapi kok di daftar itu cuma sedikit ya? pdhl prasaan kmrn tuh banyak lho yg ikut ujian di kelas teori. Alhamdulillah.. abis males bg klo kudu remedial, ga bonafit gt lho. Lagian ini juga udah minta ijin ga ngajar magang ke Cimahi. Lalu test praktek! wedew, susah amit deh. Klo pake motor bekjul ku sih mungkin gampang, tapi ini pake motore bapak pulisi. Motornya angker gitu je', dari pagi tadi blom ada yg lulus pake itu motor. Pasti aja ada yg gagal, entah itu kaki yg turun ke tanah, nabrak palang kayu, untung ga ada yg nabrak petugas test prakteknya. Kali pertama, kujalankan pelan-pelan.. masuk gigi 2. Maenin rem kaki. Alhamdulillah gak ada satupun palang patok yg ketabrak. Tapi kakiku menyentuh tanah sekali! hiks.. Kali kedua alhamdulillah lolos! hampir saja gagal di akhir dan harus remedial, tapi pak polisi - yg sptnya yg punya itu motor - menyemangati, ayoo! dikiit lagii!! Akhirnya bisa, dan bbrp orang memberikan applause. Thank you, thank you.. hehe.. Ternyata motor itu bisa ditundukkan juga, sampe ada peserta lain brlagak jd wartawan gosip, yg langsung mencecarkan prtanyaan padaku, "Mas, pake gigi berapa tuh tadi??". "Gigi 2" jawabku singkat, maunya sih dijawab no komen aja, tapi kasian :P.
So? yaah, akhirnya setelah menunggu skian lama di loket 6 tempat antri di foto, SIM ku jadi juga. Lalu ku pulg dengan motorku. Dari kemarin tuh pake motor tanpa SIM pulang pergi ke kantor polisi hehe.. untung ga ada yg ngenalin klo aku masih peserta ujian SIM, klo ga bisa kena tilang deh. Lalu dengan senang hati dan trasa menjadi pengendara motor pemula lagi, aku tancap motor menyalip bbrp mobil. Dan lampu merah pun tak terasa terlanggar sampe 2x di hari itu. Alhamdulillah selamet (don't try this at home!!) dan ga ada polisi yg liat, hihi..
- the end -
Hikmah-hikmah: 1. Pas tahu klo buta warna (parsial), jadi introspeksi nih. Mulanya kesel, tapi jadi brsyukur. Alhamdulillah baru buta warna, belom (tidak) buta beneran. Hiks.. padahal dosa mataku telah bgitu bejibunnya.. 2. Pas pengen bgt beres satu urusan, dengan doa sgalanya jd lebih mudah, trmasuk hati kita tuk bisa brtawakal dan brserah diri. 3. Pas punya SIM kok jd ngrasa bebas ya? pdhl dulu pas suka sembunyi dr polisi/operasi selalu inget doa agar ga ditangkep.. Harusnya rasa bergantung kpd-Nya tak trgantung pada apa yg ada pada kita, tapi memang kita yg sadar bahwa smua trjadi atas kehendak-Nya. 4. Apa lagi ya? empat aja ah, yg lain rahasia. 5. Mrasa nyesel krn cpe2 baca tulisan diari - yg kurang brmutu - ini? yee.. sapa suruh baca! :P
|
|
|
| |
| kemarin ... |
| 05.29.05 (4:34 am) [edit] |
Angin menceraikan awan putih Tercabik Terkoyak Dan mulutku masih saja tersenyum
Begitupun kemarin, ketika cinta berkata tidak
|
|
|
| |
| Cerita Perpisahan 'Tuk Bude |
| 05.16.05 (8:43 am) [edit] |
Pagi itu, bude mengenakan kembali selang oksigen di hidung. Aku hanya melihatnya dengan perasaan berkecamuk. Bude mulai sakit lagi. "Kamu udah makan Rie ?" ujar bude. Aku terkejut, "Sudah ... " jawabku. Dengan keadaan sakit seperti itu, masih saja dia memperhatikanku. Dari aku lahir memang bude tak jauh dariku disamping ibu. Dia juga yang dulu sering menyuapi ketika ku kecil, membuatkan wedhang jahe dan memijitiku kalau aku demam. Bahkan hingga usianya setua ini, seringkali jemarinya yang lemah memijiti punggungku kalau aku sedang sakit. Aku merasakannya hanya usapan di punggung saja, tapi usapan itu sampai ke hati. Bagi ku, dia ibu yang ke-2.
Tak jarang wajahnya tersenyum cerah ketika ku pulang dengan badan kelelahan. Atau terkadang dia mengeluhkan sesuatu hanya kepadaku, bangga aku dipercayanya tuk sekedar meringankan apa yang ada di benaknya. Dilain hari dia sering mencandaiku dengan berkata kalau keponakannya ini mirip bintang sinetron. Hahaha.. ada-ada saja. Tapi kini bude mulai sakit-sakitan lagi hingga akhirnya terpaksa diangkut ke rumah sakit. Seminggu aku temani malam-malamnya di ruangan kelas 2 rumah sakit itu. Selalu saja dia tak bisa tidur. Hingga malam itu dia melihatku kelelahan menungguinya, mataku merah karena kurang tidur. Kepalaku kerapkali menunduk tertidur. Bude menyuruhku tidur saja disamping nya. Aku tak mau, dia menyuruhku lagi, aku tak mau. Hingga beberapa kali. "Bedegong..!" hardiknya, aku cemberut, lalu dia tertawa. Aku bilang, "Bude juga bedegong ...".
Kini bude sudah dirumah, kondisinya cukup kuat untuk dirawat dirumah saja. Sering aku menjenguk ke kamarnya, mengajak ngobrol. Atau jika aku lewat ke depan kamar itu, selalu aku menolehkan muka ke pintu kamar yang terbuka, untuk sekedar melihatnya dan memastikan keadaannya. Tetapi kemudian sesuatu terjadi lagi, dia terjatuh dan kepalanya bocor. Beberapa jahitan menghiasi kepala tua itu. Miris aku melihatnya. Dua kali bude jatuh, itu karena dia ingin berjalan ke kamar mandi, padahal kami selalu mengingatinya agar tak beranjak dari pembaringan kecuali memanggil kami dulu tuk membantunya. Begitulah dia, selalu saja tak mau dibantu dan selalu merasa kuat untuk melakukan sesuatu.
Akhir-akhir ini kesehatannya menurun. Sering kata-katanya tak kami mengerti. Pernah sekali dia mengangkat tangan kirinya ke arah ku ketika aku menemuinya di kamar, lalu tawanya menyeruak, membuatku tersenyum. Tapi kami masih tak mengerti apa yang dikatakannya. Kami hanya bisa membacakan surah Yasin untuknya, atau membimbingnya tuk mengucapkan lafazh Allah.
Pagi itu, Ahad 15 Mei 2005, aku harus pergi lagi tuk magang di salah satu sekolah di pinggiran kota. Sudah beberapa hari ini aku hanya melihat bude sebentar, lalu pergi lagi tuk berbagai urusan. Aku yakin masih banyak waktu yang kan tersisa untukku mengajaknya berbicara lagi nanti. Tetapi sekarang aku harus pergi dulu. Ku longokkan kepala di pintu kamarnya, tetapi dia sedang tidur. Ah.. tak jadi aku pamit. Sore nanti pun aku pasti menemuinya lagi. Tumben, pagi ini hujan turun. Motorku terpaksa berhenti sejenak di pinggir jalan. Tiba di sekolah tempat magang. Baru sekitar satu jam sampai, tiba-tiba HP ku bergetar. Telpon dari rumah, suara ibu diujung sana. "Rie.. bude sudah nggak ada.. ".
Hampir satu jam perjalanan motorku tuk segera tiba di rumah. Sudah ku lupa kantong berat dan jaket yang kukenakan. Kaki ku tak bisa lagi tegap berdiri, berlutut ku didepan pembaringannya. Wajah bude tersenyum tetapi diam, matanya terpejam, seperti tidur saja. Kupanggil pelan tapi bude tak bereaksi. "Dee ... ", hanya diamnya yang kudapatkan. Berkali-kali tanpa sadar aku memangil-manggilnya. Ingin sekali aku bicara dengannya lagi, sekali lagi saja, hanya sekali lagi.. Tak dapat lagi kubendung air mata, biarkan aku menangis untukmu.. biarkan rasa sesalku dan permohonan maafku menjadi tangisan.. biarkan terima kasih dan rasa kehilanganku meledak saat itu.. biarkan.. Jangan kalian larang aku untuk menangis! Dan biarkan suara parau ini lamat-lamat membacakan surat Yasin terakhir untuk kepergianmu.. untuk tanda perpisahan ini..
Hari telah siang ketika langit masih saja mendung, tetapi tak lagi hujan. Aku ikut memeluknya di dada dan membaringkannya di liang lahat. Memiringkannya ke arah kiblat dan membiarkannya mencium tanah itu. Kupintakan pada Tuhan agar Dia, yang Paling Pengasih diantara yang pengasih, menyayangimu disana, memberikan tempat yang jauh lebih indah, keluarga yang jauh lebih baik dan pasangan yang jauh lebih membahagiakan. Kutitipkan pada Mu Ya Allah,.. dia milik Mu jua, mohon ku, sayangi dia..
Sore ini ku lewati lagi kamar bude. Kepalaku selalu saja ingin menoleh ke pintu kamarnya yang terbuka. Tapi tak kutemukan lagi dia disana, hanya kasur yang rapi dan lipatan selimut yang ada. Ada tempat yang hampa di hatiku. Terkadang ku masih berharap, ketika ku tolehkan wajahku, kau masih ada disana.
------------------------- ------------------------ Bude (jawa) : kakak perempuan ibu Bedegong (sunda): keras kepala.
|
|
|
| |
| mEngapa aDa ikHwan yaNg beLum juGa Menikah ?! |
| 05.10.05 (10:05 am) [edit] |
Menikah, lagi-lagi kata itu yang terngiang di telinga. Aku tak tahu apa yang membuat mereka begitu gatal untuk tidak mengatakan itu kepadaku. Khawatir? kasihan melihatku masih saja kemana-mana seorang diri?! apanya yang harus dikasihani ?!?!. Mengapa begitu latah lidah mereka mengatakan itu? bertanya soal yang itu dan yang itu terus. Apakah karena mereka sayang dan merasa pusing melihatku masih saja "jomblo"?! Kalian saja pusing, apalagi aku ?!?! ( hehehe... )
"Yo wis, ya opo koen!" (ya sudah, bagaimana kamu saja!), suatu kali orang tua ku bilang begitu dengan kesal, ketika ku bertanya apakah boleh aku menikah tahun 2004 lalu. Kekhawatiran orang tuaku padaku begitu dalam, dia tak mau aku hidup susah dan menyusahkan anak orang (istriku). Aku tahu, karena memang finansialku belum bisa dikatakan mapan untuk ukuran keluarga kami. Ada ustadz (al-hafizh) pernah menganjurkan untuk "memaksakan" hal yang satu ini pada orang tua. Masya Allah! mana sanggup?? hal itu akan melukai hati orang tuaku, dan itu akan sangat melukai ku sendiri.
"Sieunan... " (kamu penakut.. ), demikian seorang teman lama mengata-ngataiku. Hehe.. terus terang kata-katanya "dalem" juga, menusuk perasaan. Mungkin dia benar, aku ini penakut. Secara matematis, bila aku menikah ketika kuliah - seperti niatku dahulu -, atau ketika penghasilanku masih terlalu kecil, maka sedikitnya tentu akan menjadi beban bagi orang tua dan keluarga besarku. Dan demikian itulah yang terjadi pada kakak dan beberapa sepupu ku. Aku sangat membenci hal itu terjadi, lalu? bagaimana kah hal tersebut jika berlaku pula padaku ?! Mungkin terkesan hal ini begitu idealis. Tetapi di benakku, kata "mandiri" sangat tertancap kuat, itu adalah kata kehormatan. Setelah tak dapat membantu orang tua, saudara dan keluarga yang lain, maka tak ada lagi yang dapat ku banggakan selain kemandirian ini.
Jadi nggak nikah-nikah dunk.. Hehehe.. mengapa tidak? Mengapa setiap orang berfikiran untuk menikah?. Betul! menikah banyak sekali hikmah dan manfaatnya. Tetapi mengapa Imam Bukhari tak sempat menikah? mengapa Imam Ahmad pun demikian? atau asy-Syahid Sayyid Quthb? Mengapa juga para biarawan kuat untuk tidak menikah sedangkan aku tidak?! Jadi ?!?!?! Tenang.. mungkin jika tak disunnahkan, aku akan selalu menjauhi dan ragu untuk menikah. Tetapi karena Nabi saw. demikian kuat menganjurkannya, tentu aku - insya Allah - akan menikah juga. Bahkan mungkin lebih dari satu, hehehe... Mengapa tidak?! khan katanya banyak akhwat ingin berumah tangga tetapi belum jua menikah, niatku tulus hanya ingin menolong dan melindungi mereka, tak lebih. Tetapi rasanya itu akan terlalu sulit dibanding menikah dengan satu perempuan.
So? bukannya sekarang aku sudah lebih siap walaupun pas-pas an, jadi apa lagi yang ditunggu? Ooh.. hal itu off the record ya.
Seperti yang diceritakan seorang ikhwan kepada ku :)
|
|
|
| |
| Bbrp Psn² Yg Msk ... |
| 04.24.05 (7:28 am) [edit] |
Pa kabar mas Ari, wah ada yg mo ngundang-2 nih buat makan-2 ya? Slamet ya mas Ari, smoga tambah barokah umurnya ... :) -(Wiwit)-
... semoga disisa usiamu, kamu semakin dewasa dalam menapaki hidup ini, dan dimudahkan dalam menggapai cita2 yang belum terwujud, dan makin sholeh yaa, dan... -(Rara)-
traktir traktir traktir....hiks k ariii traktir duuunk...kan hari ini miladnya k ari :(( -(Icha)-
Doaku, smga akang ini didkatkan dgn jdohnya&cpt nikah,dmudahkan rizkinya. Amien! SELAMAT ULANG TAHUN BUAT ARVEN... -(Lily)-
YaRabb, JdknlahTitianUmurShbtkuYg TrcintaPdHariIniDlmKe RidloanMU,IringiHrEsokNya DgKeberkahanMU. JdknlahUkhwah IniSbgPnuaiKcintaanMU. MET MILAD' TtpIstiQmhSlalu -(Dini)-
... ultah ya..hari ini ditunggu lho makan-makannya.. semoga tambah sukes deh wirausahanya..dan cepet nemuin jodohnya he..he.. -(Yanti)-
Met milad rie.. yg ke-30 brp neh? :) -(Ardin)-
met milad ya... semoga tambah dewasa tambah sholeh, cepet dapet istri yang sholehah juga :) jangan lupa ngundang-ngundang :p sehat selalu, tetap istiqomah dijalan dakwah yang panjang ini dan semakin dicintai oleh Allah SWT, amin :) -(Nove)-
Met milad yah kang.. yang kebrp neh? :) -(Vera)-
Hepy bertdey.. gampang rejeki enteng jodo.. jadi anak sholeh, berbakti pada ortu..... hehehe. met ultahnya rie -(K' Ari)-
- Ibu hanya beli kue brownies kukus yg pasti kusuka, tanpa sepatah kata ... -
|
|
|
| |
| Ibu Juga Manusia |
| 04.23.05 (6:20 am) [edit] |
Ibu, suatu panggilan yang begitu agung. Tetapi tidak untuk ibuku. Aku memanggilnya mama, walaupun beliau kerapkali menyuruhku memanggil dengan sebutan ibu.
Bila banyak orang mengira sosok seorang ibu adalah sosok yang "wah", tetapi tidak dengan mama. Dia adalah teman, sahabat dan seorang manusia biasa. Setidaknya itu menurutku, seorang anak lelaki bungsunya. Sedari aku kecil, kami seringkali bepergian berdua saja. Jika mama belanja ke supermarket atau pasar, maka aku yang mengikutinya dari belakang. Pergi makan atau sekedar minum di pujasera tuk melepas lelah, tentunya aku ada pula disana. Bahkan beberapa kali dia mengajakku nonton bioskop ketika aku masih kecil. Demikianlah dia, sejak kematian ayahku dan kemudian kehilangan kakak pertamaku, membuat kami seringkali menghabiskan waktu bersama.
Lalu mengapa aku memanggilnya teman? karena tak jarang ia mengajakku tuk bertukar pikiran tentang keadaan keluarga. Membujukku tuk mengerti dan mengalah atas kondisi yang mengharuskan mama lebih mementingkan kakak-kakakku. Aku kecil hanya menurut saja, bisa apa aku? Bahkan tuk uang masuk SMP dan SMA pun memakai uang tabunganku sendiri. Padahal tidak untuk saudara-saudaraku, mereka dibiayai penuh oelh mama. Terkadang terlintas di benakku kalau mama tidak adil pada anak bungsunya ini. Mengapa seringkali aku yang disuruh mengalah? Mengapa tidak kakak-kakakku saja? Mengapa?!. Beberapa kali aku protes padanya tentang perlakuan ini, tetapi selalu saja dia bilang kalau aku kan bisa lebih mengerti keadaan, sedangkan kakak-kakakku tidak.
Dan sekarang, tak jarang ia mengadukan dan berkeluh kesah tentang keadaan keluarga, perlakuan beberapa orang, kondisi ekonomi dan lain-lain. Sering dia mengajakku mengobrol atau sekedar berbincang tentang hal-hal yang tak penting. Hingga akhirnya aku pun menjadi terbiasa bersenda gurau dengannya, berusaha menghibur, mencoba membuatnya tersenyum dan tertawa.
Beberapa lama berselang dan aku menjadi lebih dewasa tuk memahami. Akhirnya rasa hormatku tumbuh padanya. Karena kemudian aku tahu, bahwa dengan berbincang padaku, meminta pengertian pada ku adalah sesungguhnya itulah kepercayaannya padaku. Tiba-tiba, ingatan-ingatan tentangnya yang selama ini terlupa, kembali berkelabatan di kepala. Makan bersama, selalu dia menyisihkan lauk yang paling enak untukku. Atau disaat lain, selalu mendengarkan keluhku akan banyak hal dan berusaha menjadi pendengar yang baik, padahal belum tentu mama mengerti.
Suatu malam, aku - seperti biasa - masuk ke ruang kamarnya, untuk ikut sholat. Ternyata mama sedang tidur pulas. Tak sengaja mataku tertumpu pada wajahnya yang telah menua, tampak garis-garis di wajahnya menunjukkan waktu yang dilalui, memperlihatkan beratnya fragmen-fragmen kehidupan yang telah ia alami. Telah seperempat abad ini dia menemaniku, membiayaiku, mengurusku tanpa seorang suami disisi nya. Ah mama.. andai ku bisa merasakan beban beratmu itu selama ini.. andai aku bisa mengambilnya agar menjadi ringan.. Tapi aku tak bisa. Banyak sekali aku menuntut kesempurnaan darimu, terlalu banyak bahkan. Padahal engkau juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan ibu peri.
Malam kemarin wajah mama terlihat cerah. Kakakku membawa sate meranggi untuk hari yang spesial itu, kakakku yang lain juga membawa oleh-oleh makanan. Mulut kami tak bisa dan tak terbiasa tuk berkata-kata manis, walaupun hanya sekedar ucapan selamat hari lahir. Tapi mama tahu kalau itu bentuk perhatian kami padanya. Kami masih mengingatnya di hati.
Met ulang tahun Ma, mungkin kau tak seagung Kartini yang bertanggal lahir sama denganmu. Tapi bagi ku, kau lah sesungguhnya Kartini yang agung itu.
Ma, aku memanggilmu begitu karena terasa dekat dan indah dihati. Met ulang tahun Ma ...!
|
|
|
| |
| Menunggu-kah ? |
| 04.10.05 (7:36 am) [edit] |
|

Kemilau air danau menceritakan mentari yg mulai rebah di barat Tiada nyanyian burung senja kini, entah kemana perginya mereka Hanya sesekali terlihat angin menerbangkan daun, satu-satu
Kau berkisah, bahwa diujung sana ada asa yg tak terpetakan Bahkan, kau tak tahu - atau tak ingin tahu ? - seperti apa jadi nya Terlalu takut, katamu. Yah, terserahlah, itu kan punya mu... Disini, ku hanya menyemai tanaman rindang untuk kau singgahi
Sengaja kau mainkan riak air dengan ujung jari kakimu Aku menjadi seperti itu jika kau tahu, tapi tak mengapa Bukankah tak ada kepastian? itu katamu Ku anggukkan kepala, mengiyakan Karena aku pun tak tahu, bagaimana ini akhirnya
Kini hanya tinggal semburat merah di kaki langit Satu daun hinggap di lenganmu
"Ini...!", kau berikan daun itu "Untuk apa?" "Temui aku di pelabuhan cakrawala..." "Jadi ... ?!", mataku menyelidik Kau mengkatupkan bibir, diam. Pelabuhan itu memang tak ada Belum ada ...
tak apa kan jika ku berusaha membuat cakrawala itu ? dan biarkan yang terjadi, terjadilah ...
|
|
|
| |
| 2 Nyawa meLayanG di jAlan laYanG KirCon |
| 03.28.05 (5:35 am) [edit] |
:( Sabtu pagi ku baca di koran PR, 2 orang tewas tabrakan di jalan layang kiaracondong yg baru saja dioperasikan :(. Yang meninggal seorang bapak berusia 31 thn dan keponakannya 5 tahun, smoga arwah mereka diterima di sisi-Nya, dan ditulis sebegai syahid :|.
:x Yang bikin aku geram, tabrakan antara motor dan angkot itu terjadi karena ulah ugal²-an sang sopir angkot. Dia ambil jalur kanan, mencoba nyalip 3 mobil didepannya. Enaknya sopir brekele gitu di basmi aja pake racun tikus!. Klo dia ga kabur udah dibakar kali ma penduduk sekitar.
:? Hmm.. klo dirunut, mungkin yg salah ga cuma si sopir itu, tapi pihak pembuat jalan yg belum memasang kelengkapan rambu lalu lintas di jalan layang itu juga punya salah, atau pihak polisi yang dengan mudah meloloskan SIM pengendara. Asal punya duit, SIM A pun jadi, urusan test?! ah, itu bisa diatur..
Sopir angkot laennya kemaren komentar, mendingan jangan lewat jalan layang itu deh, masih minta tumbal tuh.. busyet!! klo akidahnya ngaco gini salah siapa ?!
|
|
|
| |
| Pertarungan Segi Tiga: Garis Senja Yang Mulai Tak Nampak |
| 03.24.05 (9:15 am) [edit] |
|
Di padang gersang itu kami berhadapan, tak ada pepohonan disana, hanya ruang datar yang luas, diselingi angin yang bercampur debu sesekali. "Mana pedang mu?!", aku menghardik padanya, dia hanya terdiam. Aku tahu dia geram dengan nada suaraku yg meninggi. "Untuk apa ?!" katanya. "Berikan!! jangan banyak bacot!!" Lalu dia menyodorkan pedang terhunus itu, kilatannya sejenak membuyarkan pandanganku. Barang kebanggaannya itu cepat aku rebut, aku pegang kedua sisinya dengan kedua lenganku, lalu kuayunkan kearah lutut. "Kraaakk...!!!" Patah!, sebilah besi mengkilat itu patah jadi dua!. aku tersenyum, lalu aku memandang dia. Kulihat matanya memerah, dia hampir menangis. Sekarang kulihat airmata terkumpul dikedua sudut mata elang itu.
"Baiklah... aku menyerah... pasrah.." ujarnya berat. "Tidak, kau belum menyerah.. yang kuhancurkan hanya pongah dan kebanggaanmu saja, bukan dirimu!" "Lalu?.. apa yang akan kau perbuat?!" "Andai aku bisa, akan ku buat kau mengerti ..." "Mengerti ?!" dia menyela kata-kataku. "Ya! aku harap kau dapat mengerti.." nada suaraku mulai mereda menghela napas.. Dia seperti tak sabar menanti lanjutan kata-kataku. "Mengerti apa?!" "Kau lihat kaki langit itu?" ku tunjuk cakrawala yang mulai kehilangan cahayanya. "Merah..." jawabnya. "Ya.., tetapi kau belum juga mengerti bukan?" Dia hanya terdiam, hanya matanya nanar memandang batas senja, jemari tangannya tetap masih menggenggam sarung pedang.
Aku tahu dia sedang memikirkannya kini, paling tidak, dia sekarang mau memikirkannya.
Hiks,... aku kehilangan "prtarungan sgi 3: msh ku tak mngerti merahnya senja". Arsipnya dimana yah... ?
|
|
|
| |
| Qona'ah Learning: Down to The Earth |
| 03.18.05 (6:58 am) [edit] |
Apa yang ada jarang disyukuri Apa yang tiada sering dirisaukan ..... (Antara 2 Cinta - The Zikr, dinyanyikan kembali oleh Saujana)
Seorang teman, alumni STM, kerja sebagai juru parkir, menemuiku kemarin. Dengan gaji yang dibawah UMR dia masih sempat menabung dan membeli motor bekas, kok bisa?!. Dia menikmati semua yang ia dapatkan, mencoba tuk berhemat dan tidak mengeluh.
Temanku yang lain, lulusan S1, seorang guru swasta. Jangan tanya salary-nya, jauh dibawah standar gaji pemerintah. Dengan satu anak dan istri dia hidup dengan mengontrak rumah dan menyicil motor. Kebutuhan lainnya dia coba tutupi dengan memberikan les privat.-, yang ternyata hasilnya jauh lebih besar dari gajinya di sekolah.
Seorang ustadz, hafizh qur'an. Walaupun seorang alumni perguruan tinggi negeri tetapi kesehariannya ia sebagai tukang ojek. Hidup dengan rumah sederhana (aku tak menyebutnya kumuh). Kabar terakhir yg kutahu, sekarang dia mengajar di salah satu mesjid besar.
Hmm.. itu baru beberapa profile rekan dan kenalanku, ada yang lebih parah lagi hehe.. ada tenaga kasar di bengkel kecil yang baru menikah kemarin, ada pula tenaga honorer guru yang pendapatannya imut tapi cukup (dicukup²kan?) tuk hidup berkeluarga. Dkk deh.. Tentu bukan tuk pasrah dengan keadaan, tetapi tetap berusaha sambil bersabar dan bersyukur, betulll ?! Jadinya pahala dapet, hati tentrem :)
Dan aku, adalah seorang ... (*kalimat berikutnya tidak lolos sensor*)
''Lihatlah orang yang lebih bawah dari kamu dan jangan melihat orang di atas kamu, maka kamu tidak akan terdorong memandang remeh terhadap ni'mat Allah kepadamu.'' (HR Bukhari dan Muslim)
|
|
|
| |
| GSD 1992 |
| 02.27.05 (11:55 am) [edit] |
|

Akhirnya.. pemuda itu mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan barisan da'wah hampir 13 tahun lalu. Ada bulir air mata disana, ketika ia mengenang satu-satu sahabatnya yang telah menjauh atau pergi dari sisinya. Ada penyesalan di dada yang menyesakkannya, tentang da'wah yang ia coba patri di hatinya, tentang azzam yang dahulu ia toreh bersama sahabat-sahabatnya di mesjid sekolah menengah atas itu.
Bermula dari pertemuan singkat menjelang maghrib, disudut ruang mesjid yang asri itu sang pemuda berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Mengaji, mendengarkan wejangan dari kakak kelas, atau uraian singkat dari kawan mereka sendiri. Sesekali terdengar tawa renyah mereka, atau hanya berupa senyum yang terkulum dengan mata yang menampakkan kebahagiaan. Sungguh tak ada yang istimewa dari pertemuan-pertemuan mereka, nasehat dan uraian yang dibahas hanyalah sedikit ilmu dan sekelumit permasalahan hidup. Tetapi mereka menyimaknya dengan tekun dan membahasnya dengan keindahan iman yang bersemayam di hati.
Adzan maghrib, pertemuan kemudian berlanjut pada ifthar jama'i, buka puasa sunnah bersama yang tak kan pernah pemuda itu temui lagi di kemudian hari. Bagian dapur menyuplai piring-piring sederhana dari sebelah mesjid. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil, pemuda itu dan 4 teman lainnya mengitari satu piring. Dengan do'a, me reka mulai menyantap nasi hangat itu dengan lahapnya. Lauknya? hanya beberapa bakwan, atau terkadang nasi yang ditaburi garam saja diatasnya. Tak ada makanan yang lebih nikmat dari itu. Entah darimana rasa kenyang itu, padahal mereka cuma mendapat jatah beberapa suap saja. Beberapa saat berlalu, para remaja belia yang masih menggunakan seragam putih-abu nya itu segera bertelanjang kaki menuju tempat air. Setiap percikan wudhu yang dibasuhkan terasa begitu damai, tercenung, pemuda itu baru menyadarinya sekarang.
Iqamah dikumandangkan bilal, mereka merapikan shaf dan merapatkannya tanpa rasa canggung, kemudian shalat maghrib berjama'ah dimulai. Ada getar mengiringi suara imam yang membacakan surat-surat al-Qur'an. Getar itu meresonansi menjadi gemuruh di dada-dada mereka. Sekali lagi, keimanan menampakkan keindahannya, sholat mereka biasa saja, tetapi iman itu membuatnya tampak jauh lebih syahdu. Lamat-lamat suara imam kian parau, yang terdengar kini hanya isak tangisnya. Pemuda itu tertegun dibelakangnya, menelusuri rongga hati yang ia rasakan kian tenggelam oleh ayat-ayat al-Qur'an. Tak kuasa ia menahan derai air mata yang menetes. Sahabat-sahabatnya demikian juga, tak ada lagi perbedaan suara diantara mereka. Kini, hanya isak tangis yang terdengar di ruang mesjid itu.
Ruang mesjid yang lengang menjadi terasa hidup oleh pertemuan mereka. Mata-mata sembab itu mulai saling berpandangan, bergantian mereka bersalaman dan saling berpelukan. Tak hanya raga yang bertemu, tetapi jiwa yang saling beradu, saling menyatu, seolah tak rela pemuda itu melepaskan kembali rangkulan sahabat-sahabatnya. Lantai marmer putih yang dingin, menjadi hangat oleh rengkuhan persaudaraan mereka. Asa itu telah terpatri disana, bahwa Islam adalah jalan hidup kita, bahwa da'wah adalah perjuangan kita. Sampai mati.
Sang pemuda menyeka bulir air matanya, ada kuncup rindu yang merekah disana. Perpisahan dengan sahabat-sahabatnya beberapa tahun kemudian sungguh membuat kehilangan yang amat sangat. Ia kehilangan rasa itu, kehilangan keindahan kebersamaan itu, kehilangan asa yang dulu begitu dalam tertancap dibenaknya. Pemuda itu duduk tercenung, diraihnya sebatang kayu, kemudian menorehkan kembali azzam yang dulu sempat memudar di dadanya. Dengan sekuat hati ia menuliskannya kembali, bahwa ia akan berada di jalan ini, hidup dalam Islam dan memperjuangkannya lagi, sampai mati.
GSD (Grup Studi dan Diskusi), Mesjid Luqman SMAN 10 Bandung, tahun 1992.
|
|
|
| |
| nGanTuK |
| 02.13.05 (8:36 am) [edit] |
|
Langit bernuansa kelam Aku tahu, karena malam ini tak berhasil ku kecup bulan
Awan hitam dipermainkan angin beku Hingga embun menjadi kristal-kristal putih Tapi mataku terlalu berat tuk memandangnya
Walau jalan tertutup malam Tetap, melangkah memang sebuah keniscayaan Tapi aku terlalu lemah tuk sekedar berdiri
Tuhan, aku lelah... Mohon, idzinkan aku tidur sejenak
Seperti anak kecil yang memejamkan mata sambil tersenyum rebah di pangkuan ibunya
|
|
|
| |
| Monumen Cinta Ibrahim as. |
| 01.29.05 (1:47 am) [edit] |
|
Kata orang, tanyakan pada seratus orang tentang arti cinta, maka kau akan menemui jawaban yang berbeda.
Cinta menawarkan kenikmatan, keindahan. Maka tak heran jika banyak manusia yang menginginkannya. Tetapi ternyata ia mempunyai sisi gelap yang dapat menjerumuskan.
Cobalah tengok kisah Romeo dan Juliet yang sad ending, sang jagoan bunuh diri. Santo Valentino, memperjuangkan cinta anak manusia, hingga diabadikan menjadi perayaan "hari cinta" valentine, bagaimana akhirnya? sang Santo itu dihukum mati. Atau hingga bangunan Taj Mahal, dijadikan sebagai perlambang monumen persembahan Sultan Syah Jehan pada permaisuri yang telah tiada. Endingnya? sang sultan itu dikudeta karena menjadi lupa nasib rakyatnya, dan dipenjara. Untungnya jendela penjara itu dibuat menghadap Taj Mahal agar mantan raja itu masih bisa menikmati keindahannya.
Ada definisi menarik dari Ust. Imanuddin Abdul-Rahim, bahwa cinta adalah "plesure to give", kenikmatan memberi dan berkorban demi untuk yang dicinta. Dan ternyata memang pengorbanan itulah yang menjadi alat pengukur kesungguhan cinta (Cintameter?).
Gunung akan kudaki, lautan kuseberangi, gelap akan kutembus (pake senter dunk ah, ngapain susah). Katanya, kalau cinta sudah melekat gula jawa jadi rasa coklat.
Dapatkah kisah Romeo, Valentino, atau Syah Jehan dikatakan telah memberi dan berkorban demi cinta? Tentu saja Ya! Terlepas dari definisi benar-salah yang kita anut. Mungkin Cintameter akan bergerak naik mencapai puncaknya.
Tetapi adakah pengorbanan yang lebih dari itu ?!. Yup! Radar Cintameter menunjuk Ibrahim as. Tanyakan segala apa saja tentang pengorbanan cinta pada kisah beliau, maka kita akan menemukannya!.
Demi cinta, beliau siap bersitegang dan berbeda paham dengan ayah yang sangat dihormatinya. Siap berhadapan dengan penguasa dan dibakar hidup-hidup. Siap hijrah dari tempat yang subur ke gurun yang gersang. Siap mematuhi segala apa yang dikehendaki yang dicinta, tanpa bertanya, tanpa pamrih, tanpa syarat. Mungkin kita menganggap hal itu suatu kegilaan. Mulai dari menelantarkan istri dan anaknya di gurun pasir yang gersang, hingga bersedia membunuh anaknya yang sangat beliau sayangi.
Maka kisah Ibrahim as. adalah monumen cinta itu. Bagaimana ending story-nya? Karena dia mencintai Sang Maha Pencinta, maka melekatlah predikat "khalilullah" (kekasih Allah) padanya. Semua nabi setelah itu berasal dar i anak keturunannya. Setiap hari milyaran umat muslim mengenang beliau dalam ta syahud akhir shalat. Dan di setiap tahun, kita mengenang kisah cinta abadi sang khalillullah itu dalam perayaan Idul Adha. Menjadikannya pelajaran tentang makna kata "cinta sejati" bagi kita.
Ada apa dengan cinta? tak ada yang salah. Hanya saja dilihat pada objeknya. Kepada siapa kita mengarahkan "kata sakti" itu? hingga untuknya kita siap berkorban apa aja, tanpa syarat. Kepada pasangan hidup? anak-anak? harta atau kekuasaan? atau kepada yang memiliki dan menguasai itu semua?
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa , bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya. (TQS. 2:165)
Wallahu'alam bishshawab.
|
|
|
| |
|
|