|
Kata orang, tanyakan pada seratus orang tentang arti cinta, maka kau akan menemui jawaban yang berbeda.
Cinta menawarkan kenikmatan, keindahan. Maka tak heran jika banyak manusia yang menginginkannya. Tetapi ternyata ia mempunyai sisi gelap yang dapat menjerumuskan.
Cobalah tengok kisah Romeo dan Juliet yang sad ending, sang jagoan bunuh diri. Santo Valentino, memperjuangkan cinta anak manusia, hingga diabadikan menjadi perayaan "hari cinta" valentine, bagaimana akhirnya? sang Santo itu dihukum mati. Atau hingga bangunan Taj Mahal, dijadikan sebagai perlambang monumen persembahan Sultan Syah Jehan pada permaisuri yang telah tiada. Endingnya? sang sultan itu dikudeta karena menjadi lupa nasib rakyatnya, dan dipenjara. Untungnya jendela penjara itu dibuat menghadap Taj Mahal agar mantan raja itu masih bisa menikmati keindahannya.
Ada definisi menarik dari Ust. Imanuddin Abdul-Rahim, bahwa cinta adalah "plesure to give", kenikmatan memberi dan berkorban demi untuk yang dicinta. Dan ternyata memang pengorbanan itulah yang menjadi alat pengukur kesungguhan cinta (Cintameter?).
Gunung akan kudaki, lautan kuseberangi, gelap akan kutembus (pake senter dunk ah, ngapain susah). Katanya, kalau cinta sudah melekat gula jawa jadi rasa coklat.
Dapatkah kisah Romeo, Valentino, atau Syah Jehan dikatakan telah memberi dan berkorban demi cinta? Tentu saja Ya! Terlepas dari definisi benar-salah yang kita anut. Mungkin Cintameter akan bergerak naik mencapai puncaknya.
Tetapi adakah pengorbanan yang lebih dari itu ?!. Yup! Radar Cintameter menunjuk Ibrahim as. Tanyakan segala apa saja tentang pengorbanan cinta pada kisah beliau, maka kita akan menemukannya!.
Demi cinta, beliau siap bersitegang dan berbeda paham dengan ayah yang sangat dihormatinya. Siap berhadapan dengan penguasa dan dibakar hidup-hidup. Siap hijrah dari tempat yang subur ke gurun yang gersang. Siap mematuhi segala apa yang dikehendaki yang dicinta, tanpa bertanya, tanpa pamrih, tanpa syarat. Mungkin kita menganggap hal itu suatu kegilaan. Mulai dari menelantarkan istri dan anaknya di gurun pasir yang gersang, hingga bersedia membunuh anaknya yang sangat beliau sayangi.
Maka kisah Ibrahim as. adalah monumen cinta itu. Bagaimana ending story-nya? Karena dia mencintai Sang Maha Pencinta, maka melekatlah predikat "khalilullah" (kekasih Allah) padanya. Semua nabi setelah itu berasal dar i anak keturunannya. Setiap hari milyaran umat muslim mengenang beliau dalam ta syahud akhir shalat. Dan di setiap tahun, kita mengenang kisah cinta abadi sang khalillullah itu dalam perayaan Idul Adha. Menjadikannya pelajaran tentang makna kata "cinta sejati" bagi kita.
Ada apa dengan cinta? tak ada yang salah. Hanya saja dilihat pada objeknya. Kepada siapa kita mengarahkan "kata sakti" itu? hingga untuknya kita siap berkorban apa aja, tanpa syarat. Kepada pasangan hidup? anak-anak? harta atau kekuasaan? atau kepada yang memiliki dan menguasai itu semua?
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa , bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya. (TQS. 2:165)
Wallahu'alam bishshawab.
|