|

Akhirnya.. pemuda itu mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan barisan da'wah hampir 13 tahun lalu. Ada bulir air mata disana, ketika ia mengenang satu-satu sahabatnya yang telah menjauh atau pergi dari sisinya. Ada penyesalan di dada yang menyesakkannya, tentang da'wah yang ia coba patri di hatinya, tentang azzam yang dahulu ia toreh bersama sahabat-sahabatnya di mesjid sekolah menengah atas itu.
Bermula dari pertemuan singkat menjelang maghrib, disudut ruang mesjid yang asri itu sang pemuda berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Mengaji, mendengarkan wejangan dari kakak kelas, atau uraian singkat dari kawan mereka sendiri. Sesekali terdengar tawa renyah mereka, atau hanya berupa senyum yang terkulum dengan mata yang menampakkan kebahagiaan. Sungguh tak ada yang istimewa dari pertemuan-pertemuan mereka, nasehat dan uraian yang dibahas hanyalah sedikit ilmu dan sekelumit permasalahan hidup. Tetapi mereka menyimaknya dengan tekun dan membahasnya dengan keindahan iman yang bersemayam di hati.
Adzan maghrib, pertemuan kemudian berlanjut pada ifthar jama'i, buka puasa sunnah bersama yang tak kan pernah pemuda itu temui lagi di kemudian hari. Bagian dapur menyuplai piring-piring sederhana dari sebelah mesjid. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil, pemuda itu dan 4 teman lainnya mengitari satu piring. Dengan do'a, me reka mulai menyantap nasi hangat itu dengan lahapnya. Lauknya? hanya beberapa bakwan, atau terkadang nasi yang ditaburi garam saja diatasnya. Tak ada makanan yang lebih nikmat dari itu. Entah darimana rasa kenyang itu, padahal mereka cuma mendapat jatah beberapa suap saja. Beberapa saat berlalu, para remaja belia yang masih menggunakan seragam putih-abu nya itu segera bertelanjang kaki menuju tempat air. Setiap percikan wudhu yang dibasuhkan terasa begitu damai, tercenung, pemuda itu baru menyadarinya sekarang.
Iqamah dikumandangkan bilal, mereka merapikan shaf dan merapatkannya tanpa rasa canggung, kemudian shalat maghrib berjama'ah dimulai. Ada getar mengiringi suara imam yang membacakan surat-surat al-Qur'an. Getar itu meresonansi menjadi gemuruh di dada-dada mereka. Sekali lagi, keimanan menampakkan keindahannya, sholat mereka biasa saja, tetapi iman itu membuatnya tampak jauh lebih syahdu. Lamat-lamat suara imam kian parau, yang terdengar kini hanya isak tangisnya. Pemuda itu tertegun dibelakangnya, menelusuri rongga hati yang ia rasakan kian tenggelam oleh ayat-ayat al-Qur'an. Tak kuasa ia menahan derai air mata yang menetes. Sahabat-sahabatnya demikian juga, tak ada lagi perbedaan suara diantara mereka. Kini, hanya isak tangis yang terdengar di ruang mesjid itu.
Ruang mesjid yang lengang menjadi terasa hidup oleh pertemuan mereka. Mata-mata sembab itu mulai saling berpandangan, bergantian mereka bersalaman dan saling berpelukan. Tak hanya raga yang bertemu, tetapi jiwa yang saling beradu, saling menyatu, seolah tak rela pemuda itu melepaskan kembali rangkulan sahabat-sahabatnya. Lantai marmer putih yang dingin, menjadi hangat oleh rengkuhan persaudaraan mereka. Asa itu telah terpatri disana, bahwa Islam adalah jalan hidup kita, bahwa da'wah adalah perjuangan kita. Sampai mati.
Sang pemuda menyeka bulir air matanya, ada kuncup rindu yang merekah disana. Perpisahan dengan sahabat-sahabatnya beberapa tahun kemudian sungguh membuat kehilangan yang amat sangat. Ia kehilangan rasa itu, kehilangan keindahan kebersamaan itu, kehilangan asa yang dulu begitu dalam tertancap dibenaknya. Pemuda itu duduk tercenung, diraihnya sebatang kayu, kemudian menorehkan kembali azzam yang dulu sempat memudar di dadanya. Dengan sekuat hati ia menuliskannya kembali, bahwa ia akan berada di jalan ini, hidup dalam Islam dan memperjuangkannya lagi, sampai mati.
GSD (Grup Studi dan Diskusi), Mesjid Luqman SMAN 10 Bandung, tahun 1992.
|