Ibu, suatu panggilan yang begitu agung. Tetapi tidak untuk ibuku. Aku memanggilnya mama, walaupun beliau kerapkali menyuruhku memanggil dengan sebutan ibu.
Bila banyak orang mengira sosok seorang ibu adalah sosok yang "wah", tetapi tidak dengan mama. Dia adalah teman, sahabat dan seorang manusia biasa. Setidaknya itu menurutku, seorang anak lelaki bungsunya. Sedari aku kecil, kami seringkali bepergian berdua saja. Jika mama belanja ke supermarket atau pasar, maka aku yang mengikutinya dari belakang. Pergi makan atau sekedar minum di pujasera tuk melepas lelah, tentunya aku ada pula disana. Bahkan beberapa kali dia mengajakku nonton bioskop ketika aku masih kecil. Demikianlah dia, sejak kematian ayahku dan kemudian kehilangan kakak pertamaku, membuat kami seringkali menghabiskan waktu bersama.
Lalu mengapa aku memanggilnya teman? karena tak jarang ia mengajakku tuk bertukar pikiran tentang keadaan keluarga. Membujukku tuk mengerti dan mengalah atas kondisi yang mengharuskan mama lebih mementingkan kakak-kakakku. Aku kecil hanya menurut saja, bisa apa aku? Bahkan tuk uang masuk SMP dan SMA pun memakai uang tabunganku sendiri. Padahal tidak untuk saudara-saudaraku, mereka dibiayai penuh oelh mama. Terkadang terlintas di benakku kalau mama tidak adil pada anak bungsunya ini. Mengapa seringkali aku yang disuruh mengalah? Mengapa tidak kakak-kakakku saja? Mengapa?!. Beberapa kali aku protes padanya tentang perlakuan ini, tetapi selalu saja dia bilang kalau aku kan bisa lebih mengerti keadaan, sedangkan kakak-kakakku tidak.
Dan sekarang, tak jarang ia mengadukan dan berkeluh kesah tentang keadaan keluarga, perlakuan beberapa orang, kondisi ekonomi dan lain-lain. Sering dia mengajakku mengobrol atau sekedar berbincang tentang hal-hal yang tak penting. Hingga akhirnya aku pun menjadi terbiasa bersenda gurau dengannya, berusaha menghibur, mencoba membuatnya tersenyum dan tertawa.
Beberapa lama berselang dan aku menjadi lebih dewasa tuk memahami. Akhirnya rasa hormatku tumbuh padanya. Karena kemudian aku tahu, bahwa dengan berbincang padaku, meminta pengertian pada ku adalah sesungguhnya itulah kepercayaannya padaku. Tiba-tiba, ingatan-ingatan tentangnya yang selama ini terlupa, kembali berkelabatan di kepala. Makan bersama, selalu dia menyisihkan lauk yang paling enak untukku. Atau disaat lain, selalu mendengarkan keluhku akan banyak hal dan berusaha menjadi pendengar yang baik, padahal belum tentu mama mengerti.
Suatu malam, aku - seperti biasa - masuk ke ruang kamarnya, untuk ikut sholat. Ternyata mama sedang tidur pulas. Tak sengaja mataku tertumpu pada wajahnya yang telah menua, tampak garis-garis di wajahnya menunjukkan waktu yang dilalui, memperlihatkan beratnya fragmen-fragmen kehidupan yang telah ia alami. Telah seperempat abad ini dia menemaniku, membiayaiku, mengurusku tanpa seorang suami disisi nya. Ah mama.. andai ku bisa merasakan beban beratmu itu selama ini.. andai aku bisa mengambilnya agar menjadi ringan.. Tapi aku tak bisa. Banyak sekali aku menuntut kesempurnaan darimu, terlalu banyak bahkan. Padahal engkau juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan ibu peri.
Malam kemarin wajah mama terlihat cerah. Kakakku membawa sate meranggi untuk hari yang spesial itu, kakakku yang lain juga membawa oleh-oleh makanan. Mulut kami tak bisa dan tak terbiasa tuk berkata-kata manis, walaupun hanya sekedar ucapan selamat hari lahir. Tapi mama tahu kalau itu bentuk perhatian kami padanya. Kami masih mengingatnya di hati.
Met ulang tahun Ma, mungkin kau tak seagung Kartini yang bertanggal lahir sama denganmu. Tapi bagi ku, kau lah sesungguhnya Kartini yang agung itu.
Ma, aku memanggilmu begitu karena terasa dekat dan indah dihati. Met ulang tahun Ma ...!
|